Kamis, 27 November 2025

SEBUAH REMANG BERKELANA HITAM

 


 

Aku melihatnya dalam sebuah remang, lalu berkelana menjadi hitam. Hitam itu saat ini, dulu, sejarah, masa lampau, atau bisa jadi terjadi selamanya. Semoga tidak ( Itu harapan)
Permasalahan yang terjadi saat ini, itu permasalahan yang terpampang, itu permasalahan yang tervisualisakan, dari sebuah proses visualisasi yang terbentuk selama berabad-abad lalu. Proses visualisasi ini, menimbulkan sebuah pertanyaan besar bagiku, ini berasal, dan mengakar dari benak yang mana?

Sifat dasar manusia itu rakus, kerakusan akan sebuah kepuasan. Ahh .. bohong rasanya jika rupiah dua miliar itu cukup memuaskan. Sifat puas tak pernah jatuh, atau mengendap dengan rasa dan batin manusia. Ia hadir dalam apapun, dan mengisi celah itu pada apapun.
Akan tetapi kerakusan tersebut bisa di minimalisir dengan adanya sebuah batas. Batas inilah yang akan, sedikit menjinakkan kerakusan.

Analoginya seperti ini. Aku, dan ibuku pergi kepasar. Lalu aku sangat menginginkan donat dengan toping gula halus putih yang visualisasi nya sangat mengkilap, dan menggiurkan itu. Namun aku hanya memiliki hasrat untuk melahapnya, hasrat akan kerakusanku terhadap sebuah donat itu. Aku tidak memiliki sebuah izin, karena izin ada pada beliau, izin terhadap sebuah akuntan itu ada pada ibuku.
Jika ibuku tidak memberiku izin, maka aku hanya bisa melahap sayur sop hasil dari belanja di pasar itu, tanpa melahap kerakusan ku pada donat itu. Namun jika ia tidak memberi sebuah respon, maka akan hanya ada sebuah akses, perihal perbantuan angka itu tidak terdapati.

Rakus pada sebuah batas, itu melebur.

Hasrat, dan nafsu itu bisa dipendam jika ada akses yang membatas.

Senin, 17 November 2025

EKSISTENSI

 Di foto ini, sebenarnya mempertunjukkan dua kedai. Atau dua "toko" penjual minuman kopi, yang saling bersebelahan. Fenomena tersebut sering, bahkan kerap dijumpai oleh kompetitor minimarket yang saling bersandingan. Hal itu rupanya terjadi juga dengan kedai kopi yang lagi marak, bermunculan. Dengan pola bersandar pada kompetitor tersebut, pola itu sungguh menguntungkan bagi team marketing nya.


Mereka sudah tidak lagi mempertanyakan apakah didaerah tersebut ada yang minum kopi? Apakah di daerah tersebut bisa membeli secangkir kopi? Itu sudah dilakukan oleh kompetitor yang terlebih dahulu melakukan R&D. Yang dilakukan dengan pola seperti ini adalah, kekuatan brand masing-masing. Mereka tidak lagi menjual rasa pada setiap cangkirnya, toh sama-sama memperkosa si kopi. Akan tetapi bagaimana brand tersebut membangun identitasnya, bagaimana brand tersebut memanjakan pelanggannya, dan bagaimana brand tersebut mengelola sdmnya.

Lalu kita sebagai pelanggan apa yang kita pilih, atau apa yang kita pertimbangkan jika dikondisi harus berada di depan kedua kedai tersebut, dan harus memilih salah satunya. Atau bahkan kita sebenarnya, tidak usah memilih keduanya? Karena mengaduk kopi bisa dilakukan dimana saja, bercengkrama, di depan pintu toilet pun tak apa. Lalu apa? Mencari cara menghabiskan upah dari hasil mengabdi ke kapitalisme, dan mengembalikannya kembali ke sistem kapital itu?

Eksisten tentang mereka, aku ragukan.

 

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Life is a joy, or is a gambling?

Narasi dominan selalu mendorong kita pada satu ilusi bahwa hidup adalah joy sebuah eudaimonia, kata di mana manusia mencapai kepenuhan dirin...