Jumat, 26 September 2025

REFLEKSI TEKNOLOGI

 Jika kamu bertanya padaku, teknologi saat ini seperti apa?

Aku akan menjawab tidak tahu. Karena aku belum bisa merangkumnya, aku belum bisa mendeskripsikannya. Karena sangat begitu bombastisnya teknologi itu.

Kamu mau apa? Mau bertanya tentang 200 tahun kedepan bisa, teknologi bisa memprediksinya. Ya memang pembawaannya kurang bijaksana seperti sang dukun itu, tapi iya bisa. Apa? Mau lihat 200tahun kebelakang sangat bisa. Mau lihat besok kamu berak jam berapa, tentu bisa. Apa? Mau lihat tontonan apa yang paling pas, saat kamu berak besok, bisa!

Mau apa lagi, mau bercumbu? Tentu bisa. Semaumu deh, semua bisa dengan teknologi itu.

Ini sebagai renunganku, akan sebuah teknologi, perkembangan, dan algoritma ini. Untuk menyadarkanku, bahwa teknologi diciptakan untuk sebuah kemajuan, perkembangan, atau apapun itu demi kebaikan. Akan tetapi kini sering kali, teknologi. Terpakai dengan tidak semestinya, ia sebagai pembuang waktu, sebagai perkelahian, atau pertarungan, sebagai adu domba, ia sudah menjadi dunia sendiri. Dan dunia itu terlalu banyak kepalsuan, dan kebodohan.

Jika mengambil penggalan lirik Mars penyembah berhala, dari Melbi, "mengganjal lapar dengan apa saja, berkhayal pun bisa" Itu mungkin bisa diganti, dengan lebih spesifik. "Mengganjal lapar, dengan nonton asmr pun bisa".

Rabu, 03 September 2025

 Jika di Agustus kemarin, terlaksana sebuah pelancongan antar provinsi. Di awal September ini pelancongan itu, terlaksana di domestik saja alis YYYA (Yang Yujo Yujo Aja). Mulai dari melintasi, kedai bubur dan, esteh jumbonya. Warung makan Indomie (Warmindo) di sebelah gang masjid itu, lalu melintasi makanan madura yang identik, dengan saus kacangnya, dan kemebul-Nya. Ia juga berada di sebelah gang. Setelah melintasi madura yang ada di timur laut Jawa Timur, kini mengharuskan melewati, identitas kabupatenku yaitu "The one and only PECEL LELE". Yang berada di samping pasar itu, setelahnya aku memasuki pagar besi penghalang kenaifan. Kenapa aku menyebutnya "Kenaifan" ia adalah penghalang, singkatnya begitu. Perjalanan ini belum sampai yang dituju, aku harus melintasi berbagai negara. Lelah? Tentu tidak karena jarak yang ditempuh untuk melintasi, itu kurang lebih hanya lima menit. Singkat bukan? Melintasinya bukan perihal berjalan, namun tergesa, dan sedikit terburu. Terburu-buru akan waktu, atau terkadang terburu-buru akan sebuah momentum. Ya lebih seringnya sih karena waktu.

Bukan hanya melintasi, yang kurang lebih lima menit itu. Terkadang juga, melintasi yang membutuhkan waktu 30 sampai 90 menitan. Lumayan kan. Tapi tentu saja, aku memakai sesuatu untuk mencapainya. Disaat proses melintasi itu, mengamati pula bagaimana sekeliling. Sekeliling yang terlalu baku, atau sekeliling dengan liarnya. Terkadang harimau, atau serigala sekalipun menampakkan kehadirannya. Ada juga sepasang burung yang bercumbu. Atau belalang yang kesepian, hingga biawak yang bersenggama. Semua tampak, semua dapat atau tidak dapat dimengerti kehadirannya. Aneh. Kok bisa ya. Tapi ya tuhan berkenan kok.

Bukan hanya hasilnya saja yang terlihat, namun mengapa-Nya juga terpampang. Mengapa burung harus memasuki semak untuk mencumbu, lalu mengapa serigala mengaum dengan membekap moncongnya, mengapa biawak bersenggama dan tak mendesah keenakan, ia malah molotot dan menjerit ketakutan. Mengapa belalang kosong pandangan. la? Kontra moral jawabannya.

Jika biawak bersenggama dengan lantang ia mendesah keenakan, belalang akan semakin terancam penisnya. Begitu pula dengan lainnya.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Life is a joy, or is a gambling?

Narasi dominan selalu mendorong kita pada satu ilusi bahwa hidup adalah joy sebuah eudaimonia, kata di mana manusia mencapai kepenuhan dirin...