Senin, 29 Desember 2025

Karbohidrat dan Kontradiksi: Ideologi Sinis dalam Totalitas Konsumsi Sehari-hari

 Dalam pembacaan Zizekian atas dialektika Hegel, spaghetti dan ubi ungu tidak pernah berhadap-hadapan sebagai esensi kelas atas dan kelas bawah. Melainkan sebagai momen-momen diferensiasi simbolik intra-material dalam satu totalitas karbohidrat yang secara imanen terbelah pada level ontik, keduanya identik sebagai substrat pati yang beroperasi dalam register Real energi, metabolisme, pemenuhan kebutuhan.  
  
Namun identitas abstrak ini segera menegasikan dirinya sendiri melalui mediasi tatanan Simbolik kelas, di mana spaghetti diangkat sebagai master signifier kosmopolitanisme, leisure, dan estetisasi konsumsi yang menyamar sebagai universalitas selera. Sementara ubi ungu direduksi menjadi objet petit a yang menanggung beban moralitas rakyat, kesederhanaan, dan fantasi keotentikan antagonisme ini, sebagaimana ditegaskan Zizek, bukan kesalahpahaman ideologis yang menunggu untuk dikoreksi, melainkan fantasi struktural yang diperlukan agar jouissance dapat terdistribusi secara diferensial. Sehingga subjek post-ideologis secara sinis, mengetahui keserumpunan material keduanya namun tetap melakukan disavowal “aku tahu ini sama, tetapi aku tetap menikmatinya sebagai berbeda”.  
  
Sebuah bentuk cynical ideology yang tidak menipu lewat kebohongan, melainkan lewat kenikmatan sadar dalam kerangka Hegelian. Relasi ini tidak bergerak menuju sintesis harmonis, melainkan melalui negasi atas negasi, di mana keselarasan spaghetti dan ubi ungu hanya mungkin muncul sebagai identitas yang gagal menutup dirinya sendiri, sebuah ko-eksistensi antagonistik yang mempertahankan kontradiksi sebagai prinsip pengikat totalitas kelas.  
  
Dalam pengertian ini, bukan relasi eksternal antar objek, melainkan luka struktural yang terinskripsi di dalam masing-masing makanan sebagai kontradiksi imanen antara fungsi material dan fungsi simbolik. Sehingga ketika spaghetti dan ubi ungu disatukan dalam satu piring, yang terjadi bukan rekonsiliasi rasa atau demokratisasi selera. Melainkan irupsi singkat Real retakan mikro dalam fantasi kelas yang segera diserap kembali oleh tatanan simbolik sebagai sumber jouissance baru, sebab, sebagaimana dibaca Zizek dari Hegel.

Kebenaran tidak terletak pada harmoni, melainkan pada ketegangan yang bertahan, pada kegagalan totalitas untuk sepenuhnya menjadi dirinya sendiri.

Lalu apa sebuah ketimpangan belaka, terjadi juga di antara telur gulung yang menggunakan telor ayam, dan telor puyuh?

Kamis, 27 November 2025

SEBUAH REMANG BERKELANA HITAM

 


 

Aku melihatnya dalam sebuah remang, lalu berkelana menjadi hitam. Hitam itu saat ini, dulu, sejarah, masa lampau, atau bisa jadi terjadi selamanya. Semoga tidak ( Itu harapan)
Permasalahan yang terjadi saat ini, itu permasalahan yang terpampang, itu permasalahan yang tervisualisakan, dari sebuah proses visualisasi yang terbentuk selama berabad-abad lalu. Proses visualisasi ini, menimbulkan sebuah pertanyaan besar bagiku, ini berasal, dan mengakar dari benak yang mana?

Sifat dasar manusia itu rakus, kerakusan akan sebuah kepuasan. Ahh .. bohong rasanya jika rupiah dua miliar itu cukup memuaskan. Sifat puas tak pernah jatuh, atau mengendap dengan rasa dan batin manusia. Ia hadir dalam apapun, dan mengisi celah itu pada apapun.
Akan tetapi kerakusan tersebut bisa di minimalisir dengan adanya sebuah batas. Batas inilah yang akan, sedikit menjinakkan kerakusan.

Analoginya seperti ini. Aku, dan ibuku pergi kepasar. Lalu aku sangat menginginkan donat dengan toping gula halus putih yang visualisasi nya sangat mengkilap, dan menggiurkan itu. Namun aku hanya memiliki hasrat untuk melahapnya, hasrat akan kerakusanku terhadap sebuah donat itu. Aku tidak memiliki sebuah izin, karena izin ada pada beliau, izin terhadap sebuah akuntan itu ada pada ibuku.
Jika ibuku tidak memberiku izin, maka aku hanya bisa melahap sayur sop hasil dari belanja di pasar itu, tanpa melahap kerakusan ku pada donat itu. Namun jika ia tidak memberi sebuah respon, maka akan hanya ada sebuah akses, perihal perbantuan angka itu tidak terdapati.

Rakus pada sebuah batas, itu melebur.

Hasrat, dan nafsu itu bisa dipendam jika ada akses yang membatas.

Senin, 17 November 2025

EKSISTENSI

 Di foto ini, sebenarnya mempertunjukkan dua kedai. Atau dua "toko" penjual minuman kopi, yang saling bersebelahan. Fenomena tersebut sering, bahkan kerap dijumpai oleh kompetitor minimarket yang saling bersandingan. Hal itu rupanya terjadi juga dengan kedai kopi yang lagi marak, bermunculan. Dengan pola bersandar pada kompetitor tersebut, pola itu sungguh menguntungkan bagi team marketing nya.


Mereka sudah tidak lagi mempertanyakan apakah didaerah tersebut ada yang minum kopi? Apakah di daerah tersebut bisa membeli secangkir kopi? Itu sudah dilakukan oleh kompetitor yang terlebih dahulu melakukan R&D. Yang dilakukan dengan pola seperti ini adalah, kekuatan brand masing-masing. Mereka tidak lagi menjual rasa pada setiap cangkirnya, toh sama-sama memperkosa si kopi. Akan tetapi bagaimana brand tersebut membangun identitasnya, bagaimana brand tersebut memanjakan pelanggannya, dan bagaimana brand tersebut mengelola sdmnya.

Lalu kita sebagai pelanggan apa yang kita pilih, atau apa yang kita pertimbangkan jika dikondisi harus berada di depan kedua kedai tersebut, dan harus memilih salah satunya. Atau bahkan kita sebenarnya, tidak usah memilih keduanya? Karena mengaduk kopi bisa dilakukan dimana saja, bercengkrama, di depan pintu toilet pun tak apa. Lalu apa? Mencari cara menghabiskan upah dari hasil mengabdi ke kapitalisme, dan mengembalikannya kembali ke sistem kapital itu?

Eksisten tentang mereka, aku ragukan.

 

Senin, 20 Oktober 2025

HOW TO MAKE A MONEY?


 

HOW TO MAKE A MONEY?
Jika pertanyaannya itu, maka jawabannya adalah mencuri. Iya, dan itu hanya satu satunya cara untuk mendapatkan uang. Simpelnya, aku ada 100 ribu rupiah untuk dua minggu, itu tidak memungkinkan. Aku mencari ide bagaimana dengan 100 ribu rupiah ini, aku bisa hidup dua minggu. Lalu mendapatkan ide menjual lumpia, di pagi hari aku memutuskan pergi kepasar membeli bahan-bahan untuk jual lumpia, dan menghabiskan sekitar 80 ribu rupiah. Mereka para penjual dipasar itu telah mencuriku, mencuri sebagian besar isis dompetku. Lalu untuk mendapatkan uang yang sudah menipis itu, aku membuat lumpia itu dan beberapa cara untuk merampok uang mereka, lewat visual lumpia ku. Mereka awalnya tidak memerlukan lumpia itu, akan tetapi berkat cemooh influencer itu, mereka rela berbondong bondong memberikan uangnya, padahal aku bukan menodongkan senjata melainkan sepotong lumpia.

Mereka, yang berkendara dengan logo berbagai hewan itu. Juga melakukan hal yang sama. Mereka bahkan lebih sadis untuk melakukannya. Aku menjual lumpia, hanya mengorbankan, beberapa nyawa ayam, dan zigotnya. Lalu beberapa juga mehluk hidup yang disebut tumbuhan. Tapi mereka, hingga darah ibu yang sembari menyusui.

Thats how to make money.

Jika ingin lebih, maka bunuh lebih banyak. Jika ingin lebih, maka katakannlah apa itu hati nurani. Persetan dengan kenaifan yang kau bentuk sebelum kau menjadi kaya raya.

Jika kamu sudah di atas sana, semuanya akan berbentuk lewat nominal.
Karena apa? Karena obsesi mu hanyalah sebuah angka.

Jumat, 26 September 2025

REFLEKSI TEKNOLOGI

 Jika kamu bertanya padaku, teknologi saat ini seperti apa?

Aku akan menjawab tidak tahu. Karena aku belum bisa merangkumnya, aku belum bisa mendeskripsikannya. Karena sangat begitu bombastisnya teknologi itu.

Kamu mau apa? Mau bertanya tentang 200 tahun kedepan bisa, teknologi bisa memprediksinya. Ya memang pembawaannya kurang bijaksana seperti sang dukun itu, tapi iya bisa. Apa? Mau lihat 200tahun kebelakang sangat bisa. Mau lihat besok kamu berak jam berapa, tentu bisa. Apa? Mau lihat tontonan apa yang paling pas, saat kamu berak besok, bisa!

Mau apa lagi, mau bercumbu? Tentu bisa. Semaumu deh, semua bisa dengan teknologi itu.

Ini sebagai renunganku, akan sebuah teknologi, perkembangan, dan algoritma ini. Untuk menyadarkanku, bahwa teknologi diciptakan untuk sebuah kemajuan, perkembangan, atau apapun itu demi kebaikan. Akan tetapi kini sering kali, teknologi. Terpakai dengan tidak semestinya, ia sebagai pembuang waktu, sebagai perkelahian, atau pertarungan, sebagai adu domba, ia sudah menjadi dunia sendiri. Dan dunia itu terlalu banyak kepalsuan, dan kebodohan.

Jika mengambil penggalan lirik Mars penyembah berhala, dari Melbi, "mengganjal lapar dengan apa saja, berkhayal pun bisa" Itu mungkin bisa diganti, dengan lebih spesifik. "Mengganjal lapar, dengan nonton asmr pun bisa".

Rabu, 03 September 2025

 Jika di Agustus kemarin, terlaksana sebuah pelancongan antar provinsi. Di awal September ini pelancongan itu, terlaksana di domestik saja alis YYYA (Yang Yujo Yujo Aja). Mulai dari melintasi, kedai bubur dan, esteh jumbonya. Warung makan Indomie (Warmindo) di sebelah gang masjid itu, lalu melintasi makanan madura yang identik, dengan saus kacangnya, dan kemebul-Nya. Ia juga berada di sebelah gang. Setelah melintasi madura yang ada di timur laut Jawa Timur, kini mengharuskan melewati, identitas kabupatenku yaitu "The one and only PECEL LELE". Yang berada di samping pasar itu, setelahnya aku memasuki pagar besi penghalang kenaifan. Kenapa aku menyebutnya "Kenaifan" ia adalah penghalang, singkatnya begitu. Perjalanan ini belum sampai yang dituju, aku harus melintasi berbagai negara. Lelah? Tentu tidak karena jarak yang ditempuh untuk melintasi, itu kurang lebih hanya lima menit. Singkat bukan? Melintasinya bukan perihal berjalan, namun tergesa, dan sedikit terburu. Terburu-buru akan waktu, atau terkadang terburu-buru akan sebuah momentum. Ya lebih seringnya sih karena waktu.

Bukan hanya melintasi, yang kurang lebih lima menit itu. Terkadang juga, melintasi yang membutuhkan waktu 30 sampai 90 menitan. Lumayan kan. Tapi tentu saja, aku memakai sesuatu untuk mencapainya. Disaat proses melintasi itu, mengamati pula bagaimana sekeliling. Sekeliling yang terlalu baku, atau sekeliling dengan liarnya. Terkadang harimau, atau serigala sekalipun menampakkan kehadirannya. Ada juga sepasang burung yang bercumbu. Atau belalang yang kesepian, hingga biawak yang bersenggama. Semua tampak, semua dapat atau tidak dapat dimengerti kehadirannya. Aneh. Kok bisa ya. Tapi ya tuhan berkenan kok.

Bukan hanya hasilnya saja yang terlihat, namun mengapa-Nya juga terpampang. Mengapa burung harus memasuki semak untuk mencumbu, lalu mengapa serigala mengaum dengan membekap moncongnya, mengapa biawak bersenggama dan tak mendesah keenakan, ia malah molotot dan menjerit ketakutan. Mengapa belalang kosong pandangan. la? Kontra moral jawabannya.

Jika biawak bersenggama dengan lantang ia mendesah keenakan, belalang akan semakin terancam penisnya. Begitu pula dengan lainnya.

Rabu, 06 Agustus 2025


 

Apa mereka juga memikirkan, ayam geprek mana yang terbaik antara, Bu Rum, atau ayam geprek Tiga Saudara.
Apa mereka juga memikirkan, sisa kuota ini apa cukup jika dipakai untuk scrolling dua jam.
Apa mereka juga memikirkan, tuhan mana yang seharusnya ia sembah.
Apa mereka juga memikirkan, nabi mana yang terbaik untuk menjadi teladan hidupnya.
Apa mereka juga memikirkan, perbedaan adzan, dan kicauan burung.
Apa mereka juga memikirkan, itu semua?

Aku sebagai pengamatnya, hanya bisa terfikirkan kalau. Mereka, hanya menikmati "Takari" yang ditabur diatas permukaan air itu, dan mereka hanya menyibukkan diri. Untuk siap menyambut, seporsi "Takari" berikutnya.

Itu aku sebagai pengamatnya.
Kenyataannya, hanya ia yang mengetahui. Ia yang berwarna ungu kehijauan, ia yang berwarna ungu kebiruan, ia yang berwarna ungu kemerahan, ia yang berwarna ungu kekuningan, ia yang berwarna pink, ia yang berwarna keemasan. Ia masing-masing dari individu-nya. Hanya dirinya.

Bukan aku sebagai pengamatnya

???

Kamis, 10 Juli 2025

 

Melaju kencang terencana, berputar mengelilingi di perdaya.
 

Selayaknya ego yang terbiasa terpuaskan, selayaknya dopamine yang terbiasa dimanjakan, dan selayaknya nikotin yang tersuplai tanpa batas, birahi pun juga. Bahagia, bahagia, bahagia atasnya, ini harapan aku berharap, berharap atas sebuah kebahagiaan.
 

Berharap atau menagih?
Enggak (bukan) menagih terlalu hina, hanya harap saja.
 

Menagih kok berkesan seperti depkolektor itu, bukan harap saja, atas bahagia.


(PERPUISIAN) “Lima Belas Sentimeter”


 

Tumit berdiri 15 centimeter, diatas jalan raya.
Aku berjalan tanpa ada bantuan.
Bantuan arah aku harus belok dan berhenti dimana.
Atau, bantuan tentang apa yang harus membuatku terus berjalan.

Tumit berdiri lima belas centimeter, diatas jalan raya.
Aku berjalan dengan hati-hati dan pelan, agar kakiku tidak terseleo dan aku tersungkur diaspal, dan aku malu tersipu malu.

Tumit berdiri lima belas centimeter, diatas aspal.
Aku berjalan sembari melihat pedagang asongan.

Kamis, 15 Mei 2025

 Hanya karena perihal bodoh sesaat, apa itu mengutamakan kepentingan penilaian? Hanya pintar dalam sekejap, apakah itu keputusan dalam setiap irama tepuk tangan? Sanjungan, cemooh, pujian, ejekan. Melihat yang kelam, belum tentu itu terjadi saat kematian, lalu melihat sebuah pesta petasan. Itu belum pasti juga, sebuah perayaan. Mungkin, ejekan atau makian yang di lantunkan setiap petasan itu dipermainkan, tidak jauh beda dengan suara-suara adzan yang terhalang, irama kepakan sayap para burung saat terbang.

Irama, dan lantunan. Emosi dan pembicaraan. Burung dara, dan kepakan.

Kembali merenungi, kembali lagi menyadari. Apa sebuah kehadiran, apa itu sebuah hinaan, apa itu sebuah pujian. Langkah-langkah yang selama ini keliru, itu memang kebodohan. Tapi apa itu selalu kebodohan, ya itu pasti kebodohan, tapi belum tentu semuanya kebodohan pribadi. Terlalu banyak faktor, manusia, atau makhluk lain yang mengotori, atau ikut campur dalam perjalanan ini. Ini hidup, dan perjalanan. Kata kuncinya adalah PERJALANAN. Di jalan bertemu siapa saja, apapun, dan apapun.

Sesaat, atau selamanya?

Ini menjadi titik balikku, untuk memproses, untuk melihat, untuk merasakan, untuk mencari. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Life is a joy, or is a gambling?

Narasi dominan selalu mendorong kita pada satu ilusi bahwa hidup adalah joy sebuah eudaimonia, kata di mana manusia mencapai kepenuhan dirin...