Jika di Agustus kemarin, terlaksana sebuah pelancongan antar provinsi. Di awal September ini pelancongan itu, terlaksana di domestik saja alis YYYA (Yang Yujo Yujo Aja). Mulai dari melintasi, kedai bubur dan, esteh jumbonya. Warung makan Indomie (Warmindo) di sebelah gang masjid itu, lalu melintasi makanan madura yang identik, dengan saus kacangnya, dan kemebul-Nya. Ia juga berada di sebelah gang. Setelah melintasi madura yang ada di timur laut Jawa Timur, kini mengharuskan melewati, identitas kabupatenku yaitu "The one and only PECEL LELE". Yang berada di samping pasar itu, setelahnya aku memasuki pagar besi penghalang kenaifan. Kenapa aku menyebutnya "Kenaifan" ia adalah penghalang, singkatnya begitu. Perjalanan ini belum sampai yang dituju, aku harus melintasi berbagai negara. Lelah? Tentu tidak karena jarak yang ditempuh untuk melintasi, itu kurang lebih hanya lima menit. Singkat bukan? Melintasinya bukan perihal berjalan, namun tergesa, dan sedikit terburu. Terburu-buru akan waktu, atau terkadang terburu-buru akan sebuah momentum. Ya lebih seringnya sih karena waktu.
Bukan hanya melintasi, yang kurang lebih lima menit itu. Terkadang juga, melintasi yang membutuhkan waktu 30 sampai 90 menitan. Lumayan kan. Tapi tentu saja, aku memakai sesuatu untuk mencapainya. Disaat proses melintasi itu, mengamati pula bagaimana sekeliling. Sekeliling yang terlalu baku, atau sekeliling dengan liarnya. Terkadang harimau, atau serigala sekalipun menampakkan kehadirannya. Ada juga sepasang burung yang bercumbu. Atau belalang yang kesepian, hingga biawak yang bersenggama. Semua tampak, semua dapat atau tidak dapat dimengerti kehadirannya. Aneh. Kok bisa ya. Tapi ya tuhan berkenan kok.
Bukan hanya hasilnya saja yang terlihat, namun mengapa-Nya juga terpampang. Mengapa burung harus memasuki semak untuk mencumbu, lalu mengapa serigala mengaum dengan membekap moncongnya, mengapa biawak bersenggama dan tak mendesah keenakan, ia malah molotot dan menjerit ketakutan. Mengapa belalang kosong pandangan. la? Kontra moral jawabannya.
Jika biawak bersenggama dengan lantang ia mendesah keenakan, belalang akan semakin terancam penisnya. Begitu pula dengan lainnya.
Rabu, 03 September 2025
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cari Blog Ini
Diberdayakan oleh Blogger.
Life is a joy, or is a gambling?
Narasi dominan selalu mendorong kita pada satu ilusi bahwa hidup adalah joy sebuah eudaimonia, kata di mana manusia mencapai kepenuhan dirin...
0 komentar:
Posting Komentar