Ketika posisi ini ditabrakkan dengan Nietzsche dan Heidegger, pergeseran ontologis menjadi tak terhindarkan. Nietzsche merekonstruksi relasi pertumbuhan kematian melalui kerangka Wille zur Macht dan amor fati, di mana kefanaan diintegrasikan ke dalam afirmasi radikal atas kehidupan; kematian tidak lagi berfungsi sebagai negasi, melainkan sebagai momen dialektis yang memperkuat intensitas daya hidup. Sebaliknya, Heidegger menempatkan kematian sebagai struktur ontologis Dasein Sein zum Tode yang memungkinkan autentisitas melalui internalisasi temporalitas dan keterlemparan (Geworfenheit). Di sini, pertumbuhan tidak bersifat etis-revolusioner ala Camus, melainkan ontologis eksistensial subjek menjadi autentik justru karena ia mengantisipasi kematiannya sebagai kemungkinan paling personal dan tak terwakilkan.
Tabrakan konseptual mencapai titik paling antagonistik ketika Camus berhadapan dengan Kierkegaard. Dalam kerangka eksistensial-teologis Kierkegaard, kesadaran akan kematian dan absurditas justru mengantarkan subjek pada keputusasaan (Fortvivlelse) yang hanya dapat dilampaui melalui leap of faith menuju Yang Absolut. Pertumbuhan, di sini, bersifat transformatif transenden dan berakar pada paradoks iman, bukan pada imanenitas pemberontakan. Camus menolak skema ini sebagai philosophical suicide, karena iman dianggap menutup ketegangan absurditas dengan postulat metafisik yang tidak dapat dibenarkan secara rasional.

0 komentar:
Posting Komentar