Kamis, 26 Februari 2026

(PERPUISIAN)-Setelah cahaya mati-


Kusam yang sedari tadi aku perlihatkan.

Gestur tubuh yang piawai aku tegakkan.

Jaga moral, jaga batas, jaga lisan, jaga liur agar tidak liar, dan berserakan di mana mana.


Hingga sebuah terang berkelana.

Hingga sebuah pekat menyertainya.

Kini hilang, dan hanya terperkosa oleh takdir takdir yang tak terjamah.


Sebuah batas dalam apa yang terang, melampaui benderang. Terperosok longsor hingga menjuntai dan berserakan menuju arah bawah ranjang.


Moral pelampiasan, dan rasa harga diri. Tak perlu ikut campur dalam atau di luar liar selimut ini.

Kini hanya ada aku dan menyelinap ke liur liur mu.


Batasan korelasi kini tak terhindarkan.


Dan mohon bawa aku saat ini terbang jauh dari realitas, bahwasannya pesawat tidak mendarat petang ini untuk menjemputmu,dan meninggalkan sebuah batas.

Bahwasanya rintihanmu, tidak akan menjadikan hanya sebuah bunyi bunyian yang berhalusinasi dibenakku, mengiringi wajah, dan paras ayu mu.

Bahwasanya kata maafku bukan karena aku telah mengecup merah di sekitar leher,ketiak, dan area payudaramu itu.

Aku kini sembari membaca koran, dan merintih karena sang pilot lebih cepat dan terjadwal disiplin untuk menjemputmu.


Kosong dan sunyi, rintihan keintiman di selimut itu sirna dan hanya akan menjadi cibiran bibir kosong sang cicak,dan ayam ayam berkokok melintasi pembicaraan kita saat malam cumbu itu.




0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Life is a joy, or is a gambling?

Narasi dominan selalu mendorong kita pada satu ilusi bahwa hidup adalah joy sebuah eudaimonia, kata di mana manusia mencapai kepenuhan dirin...