Kamis, 26 Februari 2026

(PERPUISIAN)


Dengan sebuah harap, layaknya panjatan sebuah ingin.

Biarkan tumbuh lalu menyertai.

Biarkan berkembang hingga melampaui, selesai?

Batasan-batasan kini, hingar bingar yang tak terbendung, nyata hanya menyala dan sinar yang sementara. 

Mengada hingga tiada.

Awas, menjadi apa?

Semerbak yang menyerukan untuk tetap berkompetisi, tanpa arti dari kompensasi tak jauh buruk dari tai kuda yang di geletakkan di tengah jalan oleh sang kusir. 

Dan jika saja, memulai bukan dalam artian yang sebenarnya.

Pintu tetap sama, hanya pilihan kanan atau kiri untuk tetap melanjutkan keterbukaan, hingga ini masa kini semua kini tak nyata dan mengahambat sebuah perkembangan dan berkembang. 

Sinarnya tetap mengudara hingga kita bisa mandi berdua bersamanya, bersenggama dengan pancarannya, namun apa? 

Batasan yang dibuat oleh sosok dari bawah yang terinjak itu, menganga dan berteriak

 "HEI KAFIR AKU MENYALA TERPERANA AKU PUSAT INTI DUNIA BERIKAN AKU SEPULUH TON ALPUKAT DAN JERUK AKU TAK MAU ADA SERPIHAN TELOR DADAR DI SANTAPAN MALAM DAN PAGI KU"

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Life is a joy, or is a gambling?

Narasi dominan selalu mendorong kita pada satu ilusi bahwa hidup adalah joy sebuah eudaimonia, kata di mana manusia mencapai kepenuhan dirin...